Sinterklas vs Santa Claus

Pada waktu saya masih balita, di awal-awal Desember orangtua saya suka mengajak saya ke mall (yang pada masa itu masih sangat sedikit) untuk melihat Sinterklas. Saya senang melihat sosok kakek tua berjubah merah seperti uskup dengan janggut putih panjang membawa-bawa tongkat. Sosok kakek yang kelihatan amat baik. Tapi lalu biasanya saya akan menangis dan minta pulang setelah melihat Piet Hitam yang begitu legam. Setiap tahun saya juga selalu mendapat kado natal dan orangtua saya akan bilang bahwa itu kado dari Sinterklas. Hingga saya tumbuh dewasa, Natal memang terasa tak lengkap bila tak ada sosok sinterklas (atau Santa Claus), kakek baik hati yang bermantel merah dan berjanggut seputih salju.

Namun ternyata, Sinterklas dan Santa Claus tidaklah sama. Santa Claus yang bertubuh gemuk dan bermantel merah ini adalah figur rekaan untuk reklame Coca Cola untuk meningkatkan penjualan mereka. Sedangkah Sinterklas, yang semakin terlupakan oleh konsumerisme di hari Natal, adalah nama lain dari Santo Nikolas, seorang kudus.

 

Santo Nikolas lahir di akhir abad ketiga di suatu desa bernama Patara yang kini menjadi bagian dari Turki. Santo Nikolas berasal dari keluarga kaya raya yang mengajari ia untuk menjadi Kristiani yang taat. Namun orangtuanya lalu meninggal pada saat Santo Nikolas masih muda. Santo Nikolas lalu menggunakan harta warisannya untuk menolong orang-orang yang miskin dan menderita. Ia mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan dalam usia yang masih muda, Santo Nikolas diangkat menjadi uskup di Myra. Selama ia menjadi uskup, ia dikenal karena kemurahan hatinya kepada orang miskin, cintanya kepada anak-anak, dan keperduliannya untuk nelayan dan pelaut.

Di sekitar  abad ke-4, terjadi penganiayaan besar-besaran terhadap orang Kristen yang dilakukan oleh orang romawi. Keuskupan Myra pun menjadi salah satu korbannya. Sebagai uskup Myra, Santo Nikolas tidak tinggal diam dan dengan berani ia mewartakan kebenaran iman kepada Dioklesianus yang pada masa itu menjadi kaisar. Santo Nikolas lalu ditangkap, dianiaya dan dipenjara bersama banyak orang Kristen lainnya. Ia lalu dibebaskan pada masa pemerintahan Kaisar Konstantine.

Santo Nikolas pada akhirnya meninggal dunia di Myra dan jenazahnya dimakamkan di katedral kota itu. Perayaannya lalu diadakan setiap tanggal 6 Desember.

Ada salah satu cerita yang amat terkenal dari Santo Nikolas, yaitu pada saat ia menolong tiga orang gadis terancam dijual ke pelacuran karena ayah ketiga gadis ini jatuh bangkrut sehingga tidak punya uang untuk membiayai mas kawin ketiga putrinya. Santo Nikolas yang mendengar berita itu lalu diam-diam melemparkan kantung emas ke dalam rumah sang ayah pada malam hari. Emas ini akhirnya bisa dipakai untuk membiayai pernikahan putrinya dan mereka tidak jadi dijual ke pelacuran.

Santo Nikolas juga dikenal sebagai penyayang anak-anak. Hal ini menjadi cikal bakal munculnya kebiasaan di berbagai negara, di mana seorang pria akan menyamar menjadi seorang pria tua yang lalu memberikan hadiah kepada anak-anak atas nama Santo Nikolas (Santo Nikolas = Sint Klaes = Sinterklas).

Ada begitu banyak mukjizat yang dilakukan Santo Nikolas sepanjang hidupnya. Dalam hidupnya, Santo Nikolas juga benar-benar melaksankan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama. Namun sayangnya, kisah hidup Santo Nikolas juga sering bercampur baur dengan cerita rakyat dan legenda setempat. Sehingga batas antara kebenaran dan dongeng/khayalan menjadi tidak jelas. Dalam Revisi kalender liturgi Katolik Roma tahun 1969, Vatikan lalu mencoret perayaan Santo Nikolas setiap tanggal 6 Desember dari perayaan wajib orang kudus menjadi perayaan optional.

Ingat, jangan salah kaprah. Santo Nikolas tidak dicoret dari daftar orang-orang kudus. Ia tetaplah orang kudus, hanya perayaannya saja yang tidak diwajibkan lagi. Sosok Santo Nikolas (Sinterklas) semakin lama semakin tenggelam oleh sosok Santa Claus yang mendorong komersialisme dan melupakan makna Natal sesungguhnya. Marilah kita ingat untuk tidak terjebak dengan komersialisme dan kemeriahan perayaan natal yang keliru. Tetapi mari kita belajar dari Santo Nikolas yang tak ragu memberikan harta miliknya kepada sesama yang membutuhkan.

Selamat hari raya St Nikolas, 6 Desember

(marchaela)Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: