Saat Yesus Mengubahmu

(Hari Raya St. Petrus dan Paulus: Bagian II, selesai)

 

Hingga hari ini saya masih ingat akan sebuah gambar di buku pelajaran agama waktu saya TK. Itu adalah gambar seorang pria yang nyaris jatuh terjengkang dari kudanya, wajahnya mengernyit silau oleh suatu cahaya terang.

Ya! Itu adalah gambar ilustrasi pertobatan Saulus. Saulus lahir di Tarsus dan berasal dari garis keturunan suku Benyamin. Pada masa mudanya ia adalah seorang Farisi yang menganiaya orang Kristen. Namun dengan cara yang istimewa, Yesus memilih Saulus untuk menjadi salah satu pewarta-Nya. Saulus mengalami pertemuan dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus dan ia bertobat. (Kis 9:1-18). Namanya lalu berubah menjadi Paulus. Gereja merayakan pertobatan St Paulus setiap tanggal 25 Januari.

Paulus memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran agama Kristen dan merumuskan ajaran Yesus. Paulus menyebut dirinya sebagai “rasul bagi bangsa-bangsa non yahudi” (Roma 11:13). Gagasan Paulus adalah bahwa keselamatan dari Yesus Kristus bukan hanya milik orang Yahudi saja, namun untuk semua orang. Gagasan ini tertuang dalam 14 surat yang ditulisnya.

Perjalanan misionaris Paulus tidaklah mudah. Hendak dibunuh, ditangkap, dipenjarakan, hingga dijatuhi hukuman mati. Paulus akhirnya meninggal sebagai martir di Roma. Tempat Paulus mati dipenggal dikenal dengan nama Tre Fontane (Three Fontains, 3 mata air) karena mujizat munculnya tiga mata air di tempat kepalanya dipenggal.

Sungguh besar kuasa Tuhan. Tuhan mengubah Saulus yang penganiaya orang Kristen menjadi seorang rasul yang begitu berkobar-kobar dalam menyebarkan karya keselamatan Kristus. Kata kuncinya adalah: perubahan. Sekedar menyesal tidak cukup. Bertobat itu artinya berubah, tidak melakukan perbuatan salah yang sama.

Tantangan ketika kita bertobat/berubah adalah: lingkungan kita tidak serta-merta turut berubah. Setelah Paulus bertobat, murid Yesus yang lain tidak langsung menerima Paulus. Mereka takut karena terlanjur mengenal Paulus sebagai penganiaya orang Kristen. Sama seperti bila kita berubah, misal dulu kita hidup hanya mengikuti perbuatan daging seperti senang dugem hingga mabuk dan jauh dari Tuhan, saat kita berubah tidak mau minum-minum lagi dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, orang belum tentu serta merta percaya bahwa kita sudah berubah. Cara satu-satunya adalah menunjukkan kesungguhan pertobatan kita melalui sikap dan perbuatan.

Konsekuensi lainnya adalah reaksi negatif yang kita terima. Saat kita pun sudah bertobat, kita mungkin akan dicela, dikata-katai munafik, sok suci. Kita mungkin kehilangan teman atau digoda untuk kembali melakukan perbuatan yang salah. Namun seperti St Paulus yang tak pernah berbalik lagi ke jalan hidupnya yang lama, marilah kita pun tetap setia kepada Kristus dan tidak mengulangi dosa yang sama. Jangan sampai kita jatuh kembali dalam jalan hidup yang keliru. AMIN. (by: Marchaela, dr berbagai sumber)Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: