Quo Vadis Domine?

(Hari Raya St. Petrus dan Paulus: Bagian I)
Image
Setiap tanggal 29 Juni gereja merayakan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, sebagai peringatan hari meninggalnya mereka atau hari pemindahan relikwi St Petrus dan Paulus ke Basilika St Petrus, Vatikan. Santo Petrus dan Santo Paulus adalah pilar gereja, terutama pada masa-masa gereja awal.

Santo Petrus
“Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”(Yoh 1:42)
Simon Petrus adalah satu dari empat murid pertama Yesus. Pada awalnya Simon adalah seorang nelayan sederhana. Jika Yesus tidak memilihnya, bisa jadi Simon hanya akan menjadi seorang nelayan hingga akhir hayatnya. Yesus lalu menamai Simon sebagai Kefas atau Petrus sebagai isyarat bahwa Yesus akan meletakkan landasan gerejanya di atas Petrus (Mat 16:18). (Kefas: bahasa aram/ “Petros” bahasa Yunani, artinya: “batu”)
Perjalanan Petrus dalam mengikuti Yesus tidaklah selalu mulus. Ia pernah begitu ketakutan hingga menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Ada cerita kuno tentang Petrus yang hendak melarikan diri dari Roma karena hendak dianiaya. Dalam perjalanannya meninggalkan Roma, Petrus bertemu dengan Yesus yang sedang memanggul salib. Petrus lalu bertanya, “Quo vadis, Domine?” (“Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?”) dan Yesus menjawab, “Eo Romam iterum crucifigi” (“Aku pergi ke Roma untuk disalib lagi.”). Pertemuan Petrus dengan Yesus itu membuat Petrus mengerti bahwa ia harus kembali ke Roma. +/-Tahun 67 Petrus wafat sebagai martir dengan cara disalib dengan posisi terbalik.
    Teman, kita bisa melihat bagaimana sejak awal Yesus telah memilih St.Petrus. Dari seorang nelayan sederhana, Petrus menjelma menjadi pemimpin Gereja Katolik. Yesus pun telah memilih kita dan memberikan suatu tugas perutusan, yaitu bagaimana kita sebagai orang Kristiani mewartakan ajaran Kristus lewat karya dan kehidupan kita sehari-hari. Namun, terkadang kita merasakan sulitnya menjadi orang Kristiani. Bisa jadi kita dicela bahkan tidak disukai karena kita orang Kristiani. Di sinilah kita harus belajar untuk bisa menjadi seperti St.Petrus. St.Petrus pun pernah mencoba “melarikan diri” dari Yesus, namun pada akhirnya ia kembali dan tetap setia pada Yesus hingga wafatnya. Marilah kita pun tetap setia untuk hidup sesuai ajaran Kristus dan berani mewartakan ajaran kasih-Nya, tak perduli sesulit apapun keadaan yang kita hadapi. Semoga Tuhan memberkati. Amin.

(Marchaela, dari berbagai sumber., http://www.marchaela.wordpress.com )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: